Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu menilai pernyataan Hary Tanoesoedibjo, justru menunjukan politik identitas pendukung Jokowi.

Selama ini pendukung Jokowi sibuk menuduh Anies Baswedan sebagai bapak politik identitas. Namun pernyataan Hary Tanoesoedibjo justru makin terbuka gunakan politik identitas.

“Akhirnya makin terbuka bahwa yang mereka larang gunakan politik identitas adalah pihak lawan, tapi mereka dengan gamblang gunakan identitas untuk diri dan kelompoknya,” ucapnya dalam unggahannya di Twitter, Rabu, (17/5).

Menurutnya, hal ini hanya dijadikan sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan mereka.

“Dan sayangnya, tidak sedikit tokoh mayoritas yang dijadikan bemper oleh mereka untuk memperjuangkan kepentingan mereka,” tandasnya.

Pembina PSMTI Hary Tanoesoedibjo sebelumnya mengatakan masyarakat Tionghoa akan mendukung capres jagoan Presiden Jokowi.

Hary Tanoe menyebut masyarakat Tionghoa selama ini mendukung semua kebijakan Jokowi. Mereka juga bakal mendukung keputusan Jokowi tentang capres di Pilpres 2024.

“PSMTI juga menegaskan ingin sekali siapa pun nanti yang didukung oleh Pak Jokowi tentunya akan didukung juga oleh PMSTI,” kata Hary Tanoe di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/5).

Menurut pemilik media MNC Group itu, PSMTI ingin ada keberlanjutan pembangunan setelah era Jokowi. Mereka ingin presiden berikutnya meneruskan pembangunan di bidang ekonomi dan politik.

Dia tak menyebut nama ataupun kriteria capres pilihan masyarakat Tionghoa. Ia berkata pilihan masyarakat Tionghoa bakal sesuai preferensi Jokowi.

“Secara implisit memang seperti itu, apa yang didukung beliau pasti didukung PSMTI,” ucap Hary Tanoe.

Hary Tanoe kembali menemui Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin (15/5). Mereka menggelar pertemuan empat mata sejak pagi.

Baca Juga:  Diperiksa Polisi Senin, Said Didu Banjir Dukungan: Jangan Mundur Pak

Setelah pertemuan itu, para anggota PSMTI datang ke Istana. Hary Tanoe mendampingi kelompok itu untuk bersilaturahmi dengan Jokowi.

Ketua Dewan Penasehat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Jusuf Hamka mengaku tak bisa menahan amarahnya saat mendengar klaim sepihak Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) soal masyarakat Tionghoa akan mendukung calon presiden (capres) yang dipilih Presiden Joko Widodo di Pilpres 2024.
“Pernyataan yang telah disampaikan Hary Tanoe itu ngawur dan membuat resah masyarakat Tionghoa,” kata Jusuf kepada CNNIndonesia.com, Selasa (16/5).

Kata Jusuf, masyarakat Tionghoa tersebar di berbagai partai politik, sehingga tidak mungkin diwakili oleh satu orang.

Ia mencontohkan dirinya sendiri. Sebagai orang Tionghoa, Jusuf menegaskan tak pernah memberikan kuasa untuk mengatakan bahwa masyarakat Tionghoa diwakili oleh seseorang untuk mendukung capres tertentu.

Baca Juga:  Soal Vonis Ringan Penyiraman Novel Baswedan, Said Didu: Kalau Benar Yang Bersangkutan, Kok Bilang Nggak Niat?

Selain itu, Jusuf mengklaim telah berbincang via telepon dengan Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Wilianto Tanta untuk mengklarifikasi klaim yang telah disampaikan Hary Tanoe.

Hary Tanoe mewakili Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) saat mengklaim suara warga Tionghoa mengikuti arahan Presiden Jokowi.

Jusuf pun mengungkap isi percakapannya dengan Ketua PSMITI Wilianto Tanta. Dalam percakapan yang berlangsung selama sekitar 15 menit 7 detik itu, Jusuf mengatakan Wilianto mengaku tak pernah memberikan kuasa kepada Hary Tanoe untuk mengeluarkan pernyataan atas nama PSMTI.

“Saya marahi ketua PSMTI ‘Kamu jangan pakai-pakai nama warga Tionghoa’. Dia (Wilianto) minta-minta maaf, bukan dia, dan dia tidak juga pernah memberikan wewenang kepada Hary Tanoe untuk bicara atas nama PSMTI walaupun dia (Hary) penasehat,” ujar Jusuf.

Sumber: tajukpolitik.com

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan