Israel Serang Ambulans-Sekolah, WHO: Kengerian Luar Biasa di Gaza Sulit Digambarkan

Israel Serang Ambulans-Sekolah, WHO: Kengerian Luar Biasa di Gaza Sulit Digambarkan (Foto: AP/Abed Khaled)

Serangan Israel ikut memborbardir ambulans di Kota Gaza, pada Jumat. (3/11/2023). Sebanyak 15 orang dilaporkan tewas, menurut keterangan Kementerian Kesehatan Gaza.

“Sebuah sekolah yang menampung warga sipil dan orang-orang yang mengungsi ke selatan juga menjadi sasaran serangan Israel,” menurut kementerian, masing-masing menewaskan sedikitnya 20 dan 14 orang, lapor Al Jazeera.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti pada Kamis evakuasi paksa di RS Jalur Gaza akan membahayakan nyawa ratusan pasien. Situasi di lapangan semakin krisis dan sulit digambarkan.

“Dua puluh tiga rumah sakit telah diperintahkan untuk melakukan evakuasi di Kota Gaza dan Gaza utara, dan evakuasi paksa dalam keadaan seperti ini akan menempatkan nyawa ratusan pasien dalam situasi yang mengancam nyawa,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Baca Juga:  Israel Gagal Normalisasi Hubungan Dengan Saudi

Pada konferensi pers di Jenewa, Tedros juga menegaskan kembali seruan untuk jeda kemanusiaan dalam perang Israel-Hamas demi membantu ribuan orang yang terluka, serta mereka yang tengah sakit kronis.

“Lebih dari 10.000 orang telah terbunuh, termasuk di antaranya 8.500 orang di Gaza dan 1.400 orang di Israel,”katanya, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

“Ada juga lebih dari 21.000 orang yang terluka, serta 1,4 juta orang yang mengungsi di Gaza,” katanya, serta banyak lagi orang dengan kondisi jangka panjang yang membutuhkan perawatan.

“Kami kehabisan kata-kata untuk menggambarkan kengerian yang terjadi di Gaza,” sebut Tedros.

WHO mengatakan 46 pengungsi medis yang terluka parah telah meninggalkan Gaza untuk mendapatkan perawatan di Mesir sejak penyeberangan Rafah dibuka pada hari Rabu, dan WHO juga telah memberikan 54 metrik ton bantuan medis ke wilayah tersebut, tetapi masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan.

“Situasi di Gaza ‘tak tergambarkan’,” tambah Tedros, dengan rumah sakit penuh sesak, kamar mayat membludak, dokter melakukan operasi tanpa anestesi.

Baca Juga:  Aktivis Pro Israel Usul Seluruh Ponpes Nyanyikan Lagu Yahudi seperti Al Zaytun

Banyak keluarga mencari perlindungan dan toilet meluap, sehingga berisiko menyebarkan penyakit.

Direktur Keadaan Darurat WHO Dr Mike Ryan mengatakan kesulitan memberikan bantuan karena tidak dapat menjamin keselamatan stafnya.

“Kami tidak pernah merasa sulit untuk menetapkan aturan dasar keterlibatan yang memungkinkan kami bertindak dengan cara kemanusiaan yang tepat,” katanya.

Dia mengatakan setiap staf internasional atau rumah sakit lapangan yang memasuki Gaza memerlukan jaminan keamanan, dan harus dijalankan bersamaan dengan sistem yang ada agar bisa efektif.

“Tugas kami adalah menyelamatkan nyawa. Itu adalah satu-satunya tugas kami,” katanya.

Sumber: detik.com

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan