IDTODAY.CO – Dua warga negara Indonesia (WNI) anak buah kapal (ABK) berbendera China yang nekat melompat kondisinya saat ini sudah mulai membaik. setelah mengalami syok. Keduanya akan dimintai keterangan hari ini.

“Korbannya mungkin hari ini kita minta keterangan. Karena kan kemarin syok itu,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Kepulauan Riau (Kepri) Kombes Arie Dharmanto, Selasa (9/6). Seperti dikutip dari detik.com (10/06/2020).

“Iya (Kondisi psikologis membaik), bisa diminta keterangan hari ini,” imbuhnya.

Arie Dharmanto juga mengatakan bahwa korban telah menyebutkan nama pelaku yang diduga mensponsori pembuatan dokumen palsu. Polda Kepri juga berkoordinasi dengan Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Polda Jawa Tengah (Jateng) dalam mengungkap sindikat ini.

Baca Juga:  Petinggi Gerindra: Konspirasi, Indonesia Jangan Sampai Terjebak Propaganda China Soal Corona

“Sudah menyebutkan nama pelaku yang sponsori pembuatan dokumen yang diduga palsu. kita lagi koordinasi, kita pagi ini berangkat ke Jakarta Bareskrim. Kita koordinasi sama polda NTB, sama Polda Jateng karena satu rangkaian sindikat ini,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, dua orang WNI ABK berbendera China disebut masih syok berat. Keduanya diketahui lompat dari kapal itu dan terjun di Selat Malaka.

“Perkembangan sampai sekarang kita masih mintai keterangan korban dikarenakan masih syok berat dan masih dalam konseling,” ujar Dirreskrimum Polda Kepri Kombes Arie Dharmanto kepada detikcom, Selasa (9/6/2020).

“Kita belum maksimal mintai keterangan,” imbuh Arie.

Dua ABK itu masing-masing berinisial AJ (30) yang berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan R (22), yang merupakan warga Pematang Siantar, Sumatera Utara. Mereka lompat dari Kapal Fu Lu Qing Yuan Yu 901 ke perairan di Pulau Karimun dan diselamatkan nelayan sekitar.

“Kemarin siang keduanya sudah dibawa ke Batam. Korban masih benar-benar belum ingat kronologis. Hanya beberapa nama dan ciri-ciri saja, karena HP dan lainnya disita pihak perusahaan. Kita sudah identifikasi satu nama yang diingat korban,” kata Arie.

Baca Juga:  Pengamat Sebut Tidak Mungkin China Bangun Pangkalan Militer di Indonesia

Mereka berdua nekat terjun karena diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang yang direkrut dengan iming-iming gaji Rp 25 juta per bulan.

“Ternyata mereka dieksploitasi untuk melakukan pekerjaan kasar di kapal penangkap berbendera China tanpa menerima gaji selama bekerja. Tidak sesuai kesepakatan untuk bekerja buruh pabrik di Korea Selatan,” sebut Arie.

Kedua ABK itu terjun ke laut pada Sabtu, 6 Juni, lalu sekitar pukul 03.00 WIB.[Aks]

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan