Sejumlah pihak menyoroti hasil survei dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebut Capres PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo lebih taat beragama dan lebih pintar dibandingkan Anies Baswedan serta Prabowo Subianto.

Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie mengatakan, lembaga survei yang hasilnya mengada-ngada, tidak jujur dan transparan perlu dibekukan. Saat ini negara Indonesia seperti tanpa aturan yang jelas; karena masih ada lembaga survei bak “pelacur politik”. Para lembaga survei itu rela melacur demi rupiah.

“Hanya di Indonesia dalam seminggu survei dimana-mana sampai survei tak masuk akal dibuat. Lembaga survei seperti ini harus dibubarkan,” jelasnya, Senin (22/5).

Jerry mengungkapkan, hasil survei yang mengada-ngada itu biasanya dilakukan dengan metode survei tertutup, bukan terbuka. Oleh karena itu harusnya ada aturan dalam survei, yakni dalam sebulan sekali, bukan hampir setiap saat para lembaga survei mengeluarkan hasil surveinya.

Baca Juga:  Bebas Sebelum Pilpres 2024, HRS Mustahil Kembali ke Barisan Prabowo

“KPU harus turun tangan mengecek daftar lembaga survei yang sudah teregistrasi dan juga membuka mengecek kebenaran validitas data lembaga survei tersebut,” tandanya.

Jerry menuturkan, bisa saja ada lembaga survei yang merilis siapa yang rajin lari pagi dan jogging. Ia menilai hal tersebut adalah wajar, apalagi jika lembaga-lembaga survei itu sudah dikuasai oligarki. Sehingga hasil surveinya pun tergantung siapa yang bayar.

Jerry menegaskan, saat ini publik sudah tidak bodoh lagi. Apalagi saat ini publik banyak yang tidak percaya atas keberadaan lembaga survei lantaran sudah kental dengan buying survei. Namun demikian ada beberapa lembaga survei yang kredibel sebit saja Kedai Kopi, IPO dan CSIS. “Tapi yang lain sudah diragukan keakuratan datanya,” paparnya.

Sementara itu Pakar Hukum Tata Negara dan Pengamat Politik Refly Harun juga tertawa ngakak mengetahui hasil survei yang dilakukan SMRC. Menurut Refly, publik tak perlu memusingkan hasil survei tersebut.

Menurut Refly, pada dasarnya hasil survei yang demikian menunjukkan adanya sebuah “komunitas” terbentuk di sekitar mereka yang pada ujungnya ingin meninggikan calon-calon tertentu.

“Ini hanya mengkonfirmasi bahwa yang namanya survei lama-lama responden, enumerator, dll, sudah terbentuk cycle yang barangkali pro Ganjar Pranowo. Jadi apa pun yang diajukan, yang menang adalah Ganjar Pranowo,” tambahnya.

Terkait hasil survei SMRC yang menyebut Ganjar Pranowo dinilai lebih taat beragama dibandingkan Anies Baswedan dan Prabowo Subianto, Refly mengusulkan adanya tes yang berkaitan dengan klaim keunggulan tersebut. Hal ini agar publik makin yakin mengenai apa yang disebutkan pada hasil survei yang dilakukan.

“Sekali-sekali dilakukan tes mengaji dan menjadi imam salat, mumpung semuanya muslim. Biar kita ketahuan siapa yang sesungguhnya baik bacaannya dsb,” ujarnya.

Dengan semua kondisi itu, Refly menilai lembaga survei saat ini sangat sulit dipercaya jika mengaku merepresentasikan suara pemilih nasional. Bagi Refly, ada basis-basis isu yang harusnya secara kasat mata dikuasai oleh Anies, tetapi malah tetap juga menurut lembaga survei diambil alih oleh Ganjar.

Sumber: tajukpolitik.com

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan