Salah satu upaya untuk membela bangsa dan negara adalah merawat demokrasi.

Untuk itu, semua pihak termasuk mahasiswa harus ikut andil dalam mewujudkan pelaksanaan pemilu yang sehat.

Menko Polhukam yang juga calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 3 Mahfud MD menegaskan bahwa pemilu menjadi mekanisme mengelola beragam pandangan dan aliran politik.

“Negara demokrasi kalau tidak ada pemilu, maka tidak bisa disebut negara demokrasi. Konstitusi itu membatasi wilayah kekuasaan dan waktu, rutin mengevaluasi kepemimpinan secara,” kata Mahfud saat mengisi orasi kebangsaan di Universitas Bung Hatta (UBH), Padang, Sumatera Barat, pada Selasa (19/12).

Baca Juga:  Alasan Mahfud MD Imbau Tak Usah Bayar Pinjol Ilegal: Tak Punya Izin OJK dan Ada Pemerasan

Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur ini berpesan, pemilu yang digelar secara rutin ini, untuk mengedepankan kepentingan negara di atas golongan.

Kepentingan negara dan bangsa harus nomor satu, sebab dalam setiap pelaksanaan pemilu, punya potensi perpecahan. Makanya, harus diselenggarakan tanpa diskriminasi.

“Ini ajakan untuk memilih pemimpin bersama. Bukan mengeliminir musuh.

Bersatu setelah bertarung, siapapun terpilih, itu pemimpin kita,” kata Mahfud.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini mengajak mahasiswa aktif dalam pemilu. Menurutnya, jangan berpikir tidak ada calon yang bagus. Pilihlah yang terbaik atau yang paling sedikit kejelekannya.

Baca Juga:  Mahfud: Pesan Pak Presiden, Aparat Jangan Terlalu Sensi, Ada Apa-apa Ditangkap

Pemilu, kata Mahfud, bukan sekadar memilih orang sempurna, tapi memperkecil peluang orang jahat memimpin. Sebab, memilih maupun tak memilih, hasilnya akan jadi pemimpin dan tunduk pada kebijakannya.

Ia menyebut orang yang apatis bisa jadi korban keputusan politik. Tak ada orang yang tidak terikat keputusan politik yang menang.

“Jangan bilang ogah ikut politik,” tegas Mahfud.

Baca Juga:  Mahfud MD: Papua Tidak Butuh Tambahan Petugas Keamanan

Lebih lanjut, Mahfud berharap, Pemilu 2024 diselenggarakan dengan jujur, adil, bebas, rahasia, dan tidak boleh ada paksaan. Jika tidak, akan menimbulkan kekacauan.

“Jangan mau diteror, ditekan, apalagi mau dibeli suaranya.

Menurut ajaran agama, orang yang memilih karena disuap, tidak sesuai dengan hati nurani, itu seperi binatang. Nuraninya tidak hidup. Ingin milih itu, dikasih uang jadi berubah, jadi dia tidak pakai nurani.

Punya mata dan telinga tapi tidak melihat dan mendengar kebenaran,” demikian Mahfud.

Sumber : rmol.id

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan