Tokoh nasional, Rizal Ramli mengingatkan Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU) untuk lebih fokus dalam memerhatikan kesejahteraan dan membela umat di akar rumput seperti yang dilakukan KH Hasyim Asy’ari sebagai tokoh pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Rizal Ramli mengatakan, semangat resolusi jihad yang diserukan KH Hasyim Asy’ari kepada umat muslim untuk melawan penjajah pada 22 Oktober 1945 menjadi fakta sejarah bahwa organisasi yang berdiri sejak 31 Januari 1926 memiliki kontribusi besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga:  Ingatkan Luhut Jangan Arogan Dan Anti Kritik, PBNU: Pemerintah Merasa Selalu Paling Benar

Namun, dalam kondisi sekarang ini, menurut Rizal Ramli, para pengurus PBNU seolah sudah melupakan resolusi jihad yang pernah didengungkan oleh kakek dari Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Padahal, penjajahan itu tak hanya diartikan dalam konteks serangan fisik saja, namun penguasa yang menindas rakyatnya sendiri melalui kebijakan juga bisa didefinisikan sebagai bentuk penjajahan.

“Saya melihat peran para pengurus PBNU ini lebih banyak menjadi ‘juru kampanye’ pemerintah saja ketimbang membela umat. Padahal warga NU di akar rumput itu hidupnya banyak yang susah. Misalnya, petani di Pulau Jawa yang kebanyakan warga NU masih banyak yang mengeluh soal mahalnya harga pupuk dan bibit sehingga mereke kesulitan untuk menanam. Akibatnya, mereka terancam menjadi lebih miskin,” tutur Rizal Ramli saat berbincang dengan pengurus Komite Khittah Nahdlatul Ulama (KKNU) 1926 yang dipimpin KH Solachul Aam Wahib Wahab atau karib disapa Gus Aam di Jakarta Selatan, Senin (17/7) seperti dikutip Holopis.com.

Baca Juga:  Tanggapi Telegram Kapolri, Rizal Ramli: Mungkin Mas Jokowi Tidak Pernah Berjuang Untuk Demokrasi

Untuk meningkatkan kepercayaan, Rizal Ramli meminta kepada pengurus PBNU untuk mengobarkan kembali resolusi jihad dalam membela umat.

“Resolusi jihad dalam kondisi sekarang ini adalah melawan kebijakan pemerintah yang tak berpihak pada rakyat,” tandas Rizal Ramli.

Sumber: holopis

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan