IDTODAY.CO – Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Septian Hario Seto, menegaskan bahwa dampak Corona tidak hanya pada sektor kesehatan saja, tapi juga menimpa sektor ekonomi.

Menurutnya, sektor ekonomi sangat merasakan dampak virus tersebut baik dari segi suplai maupun permintaan. Hal tersebut dirasakan oleh hampir semua negara-negara di dunia.

“Karena pabrik tutup, ada lockdown, sehingga suplai ke pasar terganggu. Sementara dari sisi permintaan juga terganggu karena konsumen tidak bisa belanja dan juga kehilangan pendapatan akibat adanya pembatasan aktivitas,” kata Seto kepada wartawan, sebagaimana dikutip dari Rmol.id (9/6).

Setan mengatakan, para ahli ekonomi telah menetapkan bahwa dampak Corona sama dengan great depression di tahun 1930an. Dan berbeda dengan krisis tahun 97/98 atau 2008/2009.

“Yang membedakan itu tadi, dua hal yang langsung kena, yaitu sisi suplai dan permintaan, dan ini kena hampir ke seluruh dunia. Sehingga dampak ekonominya cukup signifikan,” urainya.

Namun demikian, Seto mengklaim pemerintah tetap optimis menghadapi perlambatan ekonomi. Walaupun harus tetap hati-hati mengantisipasi segala kemungkinan.

Baca Juga:  Tetap Tuntut Said Didu, Luhut: Setiap Tindakan Ada Konsekuensinya

“Dalam kasus Indonesia kita cukup beruntung karena pasar domestiknya sangat besar. Sehingga kita melihat pertumbuhan ekonomi kita di kuartal I 2020 memang turun, tetapi masih positif. Di sejumlah negara lain bahkan ada yang negatif,” ucapnya.

Dari sisi investasi, Seto mengatakan pemerintah masih optimis dan akan fokus pada investasi yang bersifat strategis. Artinya investasi yang bisa memberi nilai tambah atas kekayaan alam Indonesia, menciptakan pemerataan pertumbuhan, dan menciptakan lapangan kerja.

Seto mengklaim sampai saat ini belum ada pembatalan komitmen investasi. seperti investasi mobil listrik yang dilakukan oleh Hyundai. Mereka menunda untuk melakukan ground breaking pabrik mobil hingga November.

“Satu lagi investasi pabrik susu senilai Rp 4 triliun. Seharusnya semester I tahun ini tapi juga terpaksa harus ditunda karena banyak tenaga ahli  mereka yang belum bisa datang. Dua contoh itu menjadi indikator Indonesia masih menarik untuk investor. Saya menyebutkan kita optimis tapi juga harus tetap hati-hati,” pungkasnya.[Brz]

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan