Walikota Tri Rismaharini (Risma) mengungkapkan alasannya marah-marah terkait pemindahan mobil PCR (Polymerase Chain Reaktion) Covid-19 bantuan Badan Nasional Penanggulangan Becana (BNPB), beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan di hari itu warga Surabaya sudah telanjur mengantre untuk melakukan tes swab Covid-19 sejak pukul 14.00 siang. Banyak tes swab yang menumpuk dan belum diketahui hasilnya. Ini membuat Risma gelisah karena mobil yang ditunggunya tidak kunjung datang. Mobil baru datang pukul 19.00.

Saat itu, Risma mengaku masih bisa menahan kekesalannya.

Risma mengisahkan kronolisnya. Ia mengontak Kepala BNPB Doni Monardo untuk meminjam mobil PCR. Setelah permintaan mobil PCR disetujui, Risma pun mengumpulkan sejumlah warga yang berstatus orang dalam pemantauan (ODP), orang dengan risiko, dan orang tanpa gejala.

Mereka sebetulnya sudah melakukan tes swab yang pertama. Namun, untuk memastikan mereka betul-betul sehat, hasil negatif harus didapat setelah dua kali tes swab.

“Protapnya seperti itu,” ucap Risma, dalam acara telekonference, ‘Ini Budi’ Sabtu (6/6), yang juga disiarkan ke YouTube.

Baca Juga:  Kritisi Candaan Risma Terkait Corona, Roy Suryo: Bu Cyantik, Tidak sepantasnya dibuat "candaan"

Jadi, setelah kecewa karena mobil PCR datang terlambat, kekesalannya bertambah karena besoknya mobil PCR itu ternyata dibawa ke luar kota.

“Oke, saya terima saat itu karena besok katanya sudah di Surabaya,” ujarnya mecoba bersabar.

Risma pun kembali meminta warga bersiap mulai pukul 07.00 keesokan harinya.

Namun, ternyata mobil PCR Covid-19 kembali dibawa lagi ke luar kota lainnya. Disitulah Risma mulai marah.

Risma merasa dipermainkan. Ia pun menghubungi seorang pejabat di Balai Kota Surabaya dan mengeluarkan unek-uneknya.

“Di situ saya marah. Mohon maaf, suara rakyat itu suara Tuhan, kita tidak bisa menyia-nyiakan mereka,” kata Risma. “Kan kasihan warga saya nunggu. Saya marahlah, mereka nunggu dari jam tujuh.”

Meski kecewa, Risma mengatakan hubungannya dengan Pemprov Jawa Timur baik-baik saja.

“Yang penting saya sudah bekerja keras. Sekali saja lengah dan keputusan salah maka berat risiko berat akan dialami masyarakat Surabaya,” tegas Risma.

Sumber: rmol.id

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan