Pemikir Kebinekaan Sukidi menilai, Indonesia sudah lama merdeka. Namun, sayangnya tidak semakin memperlihatkan kedewasaan. Sebaliknya, begerak tanpa karakter yang kuat sebagai bangsa yang besar.

“Menjelang 78 tahun Indonesia merdeka, bangsa ini justru bergerak menjadi satu bangsa tanpa karakter. Kondisi Indonesia tanpa jiwa ini sungguh berbahaya dan sebenarnya sangat genting,” katanya dikutip KBA News dari YouTube Metro TV, Rabu, 2 Agustus 2023.

Menurut doktor lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat (AS) itu, pertumbuhan suatu bangsa tanpa jiwa itu mengakibatkan terjadinya tatanan moral yang hampir jungkir balik. “Yang begitu semrawut, yang tunggang langgang,” jelasnya.

“Batas-batas moral antara benar dan salah, baik dan buruk menjadi blur, menjadi remang, menjadi jungkir balik dan ini membahayakan. Di awal reformasi nepotisme itu begitu buruk tetapi, sekarang nepotisme menjadi praktek yang biasa,” katanya.

Nepotisme merupakan suatu kegiatan seseorang dalam memanfaatkan kedudukan ataupun posisinya untuk lebih memprioritaskan teman atau keluarganya di atas kepentingan umum.

Hal itu dilakukan atas dasar hubungan kedekatan atau hubungan keluarga saja, bukan atas dasar kompetisi. Hal itu pun banyak terjadi di dunia politik di tanah air.

Baca Juga:  Beathor: Ada Menteri Korupsi Bansos dan Berbisnis PCR, Oligarki Istana Makin Kaya

Pun dengan korupsi, yang menurut Sukidi hal itu kini sudah menjadi semacam kebiasaan pada pejabat negara. “Korupsi pada era reformasi menjadi musuh bersama, sekarang korupsi menjadi kebiasaan, menjadi habit bangsa ini,” tambahnya.

Oleh karenanya, kader Muhammadiyah tersebut mengajak semua elemen agar kegelisahan tersebut bisa segera dicarikan solusinya agar bisa diselesaikan. “Karena itu, kita harus menumbuhkan kembali satu spirit agar bangsa ini menemukan kembali jiwanya,” ujarnya.

Sumber: kbanews

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan