Oleh: Djumriah Lina Johan
(Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi Islam)

Kelompok-kelompok sayap kanan telah mengambil keuntungan dari ketakutan orang-orang terhadap pandemi covid-19 (virus corona), melalui teori konspirasi dan disinformasi dengan menjelek-jelekkan kaum Muslim, dan menyebarkan propaganda Islamofobia. Di Inggris, polisi kontraterorisme telah menyelidiki puluhan kelompok sayap kanan yang dituduh memicu insiden anti-Muslim selama beberapa pekan terakhir.

Sementara di Amerika Serikat, situs website sayap kanan telah menyebarkan propaganda anti-Muslim secara daring. Mereka menyebarkan teori konspirasi palsu bahwa gereja-gereja di negara itu akan dipaksa untuk tutup selama pandemi, sementara masjid akan tetap terbuka untuk beribadah. Di India, para ekstrimis menyalahkan seluruh populasi Muslim di negara itu. Ekstrimis mengklaim muslim sengaja menyebarkan virus melalui “corona-jihad”.

Banyak di antara pelaku propaganda anti-Muslim memiliki sejarah mendokumentasikan pembuatan konten xenophobia, dan Islamofobia sebelum pandemi corona. Mereka membuat statistik tentang infeksi virus dan menciptakan cerita yang menyalahkan umat Islam atas krisis. Konten penyebaran informasi palsu dan kebencian menyebar semakin mengkhawatirkan. Hal ini karena banyak orang tinggal di rumah, mereka sering mendapatkan berita dan bersosialisasi secara daring. (Republika.co.id, Sabtu, 11/4/2020)

Hegemoni wacana yang dikonstruksi Barat sebagai bagian dari proyek ambisius proxy war dengan target monsterisasi terhadap Islam, nampaknya telah membuahkan hasil. Wacana tersebut telah melahirkan islamofobia pada masyarakat di dunia. Pasca peledakan menara kembar World Trade Centre yang konon dilakukan oleh mereka sendiri telah menghasilkan proyek war on terorism yang dimaknai sebagai perang terhadap Islam.

Baca Juga:  New Normal dan Refleksi Pesan Idul Fitri Presiden Jokowi

Efek domino dari islamofobia ini semakin hari semakin menjadi-jadi dan cukup mengkhawatirkan. Islamofobia dilakukan oleh individu maupun negara berupa penistaan, permusuhan, kebencian terhadap Islam dan kaum muslimin. Mulai dari sekedar mencibir saat berpapasan dengan muslim hingga pengusiran, penyiksaan dan pembunuhan. Mulai dari pelarangan terhadap pakaian muslim hingga tuduhan teroris terhadap muslim.

Secara etimologi, kata fobia dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti suatu ketakutan yang sangat berlebihan atau irasional terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya. Fobia adalah rasa ketakutan kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk menjauhi sesuatu yang ditakuti itu. Bedanya dengan rasa takut biasa, penyakit kejiwaan yang bernama fobia ini takut kepada obyek tertentu yang sebenarnya tidak menyeramkan untuk sebagain besar orang.

Begitulah pula dengan kata Islam yang dijadikan sebuah obyek untuk menakut-nakuti masyarakat global akhir-akhir ini. Islam yang justru merupakan ajaran mulia dan damai dikonstruk sedemikian rupa seolah sesuatu yang menyeramkan, buruk dan membahayakan terus ditanamkan melalui impuls-impuls di masyarakat tanpa memberikan kesempatan kepada pikiran rasional untuk mengkajinya, maka lahirlah kondisi kejiwaan yang abnormal berupa Islamofobia.

Islamofobia sengaja dihadirkan oleh Barat untuk menjauhkan umat manusia dari Islam. Mereka mendudukkan seolah Islam dan kaum Muslimin-lah sumber bencana di muka bumi hari ini. Keteguhan kaum Muslimin memegang nilai-nilai dan aturan Islam-lah yang mereka pandang sebagai penghambat pembauran budaya di tengah umat. 

Islam adalah rahmatan lil’alamin, namun jika seseorang mengidap penyakit kejiwaan berupa islamofobia, maka Islam akan dianggap sebagai monster menakutkan yang harus dimusuhi, dibenci dan dimusnahkan.

Padahal saat muslim berjaya dalam naungan Khilafah Islamiyah, semua pemeluk agama –ahlul kitab ataupun musyrik– akan mendapatkan perlindungan dan tak akan dizalimi. Saat Khilafah Utsmaniyah menguasai hampir 2/3 dunia, dengan keragaman komunitas agama dan etnis, semua dilindungi.

Terbukti setelah menguasai Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih memberikan kebebasan kepada orang-orang Nasrani untuk melaksanakan semua acara ritual keagamaan mereka dan memiliki pemimpin keagamaan yang mengatur urusan agama mereka.

Demikian pula Sultan Bayazid II yang menolong Yahudi di Andalusia dari mahkamah inkuisisi Spanyol. Jelas Islam tidak mungkin bertindak brutal, karena Allah SWT melarang kezaliman dan Rasulullah SAW juga memerintahkan setiap muslim berlaku adil pada nonmuslim. Menempatkan mereka secara beradab, karena Islam adalah agama paling sempurna dan akan terlihat kesempurnaannya jika Khilafah yang menjadi pelaksananya.

Baca Juga:  Bersatu Hadapi Corona, Sudahkah?

Islamofobia sengaja dihadirkan oleh Barat untuk menjauhkan umat dari kemuliaan yang hakiki, yang tak akan mungkin diraih dengan sistem Kapitalisme yang rusak dan merusak. Islamofobia didesain secara sengaja oleh Barat dengan target menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Jalan satu-satunya untuk menghentikannya adalah dengan menghancurkan supremasi Barat di dunia.

Tentunya butuh kekuatan yang seimbang. Tidak cukup personal atau kelompok, tapi harus berupa institusi negara, yakni Khilafah. Khilafah lah yang akan menjadi junnah/perisai bagi kaum Muslimin dari setiap teror dan serangan musuh-musuh Islam. Di belakang Khalifah pula kaum Muslimin akan berperang melawan setiap pihak yang merusak kehormatan Islam dan kaum Muslimin. Wallahu a’lam bishshawab.

*Tulisan ini adalah ‘Surat Pembaca atau Opini‘ kiriman dari pembaca. IDTODAY.CO tidak bertanggung jawab terhadap isi, foto maupun dampak yang timbul dari tulisan ini. Mulai menulis sekarang.

Tulis Komentar Anda di Sini

Iklan